Puisi Intuisi
ku pijak pada lamunan tak mendasar
ku lari pada angan, hasilnya datar
langit fajar masih putih-membiru
langit petang, jingga saja begitu
kau sebut rasa tak perlu diungkap
semisal menyekap, aku engap
semisal menahan, aku enggan
lagi, tak realistis kau katakan
ditengah jalan,
tidakkah sia-sia putar haluan?
adakah yang paling kuat dari ketidakpastian ego sebuah alasan?
mengapa tak mencoba bertahan?
lain waktu, pihak kedua mungkin saja berubah fikiran!
begitu, meyakini polo bodohku
terpatri pada takdir
berharap saja segera berakhir
keadaan waktu nyatanya pelik
siapa sangka pusat rasaku sakit
hidup, menuai pelajaran
meski tidak melulu tentang tangan yang bertepuk sendirian
ku lari pada angan, hasilnya datar
langit fajar masih putih-membiru
langit petang, jingga saja begitu
kau sebut rasa tak perlu diungkap
semisal menyekap, aku engap
semisal menahan, aku enggan
lagi, tak realistis kau katakan
ditengah jalan,
tidakkah sia-sia putar haluan?
adakah yang paling kuat dari ketidakpastian ego sebuah alasan?
mengapa tak mencoba bertahan?
lain waktu, pihak kedua mungkin saja berubah fikiran!
begitu, meyakini polo bodohku
terpatri pada takdir
berharap saja segera berakhir
keadaan waktu nyatanya pelik
siapa sangka pusat rasaku sakit
hidup, menuai pelajaran
meski tidak melulu tentang tangan yang bertepuk sendirian

Komentar